Bagaimana Cara Investasi Saham untuk Pemula dengan Modal Kecil yang Aman & Menguntungkan?

admin2025-08-07 02:01:3263Menabung & Budgeting

Halo para pembaca setia dan calon investor hebat! Selamat datang di blog saya, tempat kita akan mengupas tuntas berbagai strategi finansial yang cerdas. Hari ini, saya ingin membahas sebuah topik yang seringkali diselimuti mitos dan keraguan, padahal sejatinya adalah gerbang menuju kebebasan finansial bagi siapa saja: investasi saham untuk pemula dengan modal kecil, yang aman dan menguntungkan.

Saya ingat betul, dulu banyak sekali orang yang beranggapan bahwa saham itu hanya untuk kalangan crazy rich atau para ekonom berdasi yang kerjanya melototi grafik sepanjang hari. Saya sendiri pun awalnya memiliki pandangan serupa. Namun, setelah menyelami dan mempraktikkan sendiri, saya menyadari bahwa anggapan tersebut hanyalah mitos belaka. Bahkan, dengan modal yang relatif kecil, kita bisa kok memulai perjalanan investasi saham, asalkan tahu strateginya dan punya bekal mental yang tepat.

Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan saya terhadap ribuan investor pemula. Tujuan saya sederhana: membongkar selubung kerumitan investasi saham dan menunjukkan bahwa ia adalah alat yang sangat demokratis, bisa diakses siapa saja, termasuk Anda yang mungkin baru pertama kali tertarik dengan dunia pasar modal. Mari kita selami lebih dalam, bagaimana mengubah modal kecil menjadi aset yang bertumbuh dengan aman dan menguntungkan.

Bagaimana Cara Investasi Saham untuk Pemula dengan Modal Kecil yang Aman & Menguntungkan?

Mengapa Investasi Saham Itu Penting, Bahkan dengan Modal Kecil?

Mungkin Anda bertanya, "Untuk apa repot-repot investasi saham kalau modalnya cuma sedikit?" Pertanyaan yang sangat wajar! Namun, izinkan saya mengubah perspektif Anda. Investasi saham, bahkan dengan jumlah yang tidak terlalu besar, memegang peranan krusial dalam membangun kekayaan jangka panjang.

Melawan Inflasi yang Menggerogoti Nilai Uang Anda Coba bayangkan, nilai uang Rp100.000 hari ini mungkin tidak akan sama dengan nilai Rp100.000 lima atau sepuluh tahun ke depan. Inflasi adalah monster tak terlihat yang terus-menerus menggerogoti daya beli uang kita. Dengan menabung saja, uang Anda cenderung kehilangan nilainya seiring waktu. Investasi saham menawarkan potensi pertumbuhan yang dapat mengalahkan laju inflasi, bahkan melampauinya, sehingga kekayaan Anda tidak hanya bertahan tetapi juga bertambah.

Potensi Pertumbuhan Aset yang Signifikan Tidak ada instrumen investasi lain yang menawarkan potensi pengembalian sebesar saham dalam jangka panjang. Ketika Anda membeli saham sebuah perusahaan, Anda sejatinya menjadi bagian kecil dari kepemilikan perusahaan tersebut. Jika perusahaan itu berkembang, profitnya meningkat, maka nilai saham Anda pun berpotensi ikut melambung. Ini bukan spekulasi kosong, melainkan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi bisnis riil.

Aksesibilitas yang Semakin Mudah dan Terjangkau Dulu, untuk investasi saham butuh modal jutaan rupiah. Kini, banyak sekuritas yang menetapkan minimum deposit yang sangat rendah, bahkan ada yang dimulai dari Rp100.000 saja. Ini membuka pintu lebar bagi siapa saja untuk ikut merasakan manisnya pertumbuhan pasar modal. Teknologi digital juga membuat proses pembukaan rekening, transaksi, hingga monitoring portofolio menjadi sangat praktis, bisa dilakukan dari genggaman tangan Anda.

Membangun Kebiasaan Finansial yang Positif Memulai investasi saham dengan modal kecil adalah cara terbaik untuk melatih disiplin finansial. Ini memaksa Anda untuk belajar mengalokasikan dana secara rutin, memahami risiko, dan tidak mudah terbawa emosi pasar. Kebiasaan ini akan sangat berharga seiring dengan bertambahnya modal dan pengalaman Anda di masa depan.


Fondasi Awal yang Wajib Dibangun Sebelum Berinvestasi

Sebelum Anda terburu-buru membuka rekening saham dan langsung membeli emiten yang sedang "hype", ada beberapa fondasi penting yang harus Anda bangun. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan perjalanan investasi Anda aman dan tidak menjadi bumerang.

1. Kesehatan Keuangan Pribadi Adalah Segalanya Ini bukan nasihat klise, tapi mutlak penting. Sebelum dana Anda masuk ke pasar saham, pastikan Anda memiliki: * Dana Darurat yang Cukup: Idealnya, siapkan dana darurat sebesar 3-6 bulan pengeluaran rutin Anda. Dana ini harus liquid dan mudah diakses, bukan di saham. Tujuannya adalah agar Anda tidak terpaksa menjual saham di saat harga sedang jatuh hanya untuk memenuhi kebutuhan mendesak. * Bebas Utang Konsumtif Berbunga Tinggi: Lunasi dulu utang kartu kredit atau pinjaman online berbunga mencekik. Bunga utang ini jauh lebih besar daripada potensi keuntungan investasi saham jangka pendek. Investasi saham menggunakan uang panas atau uang pinjaman adalah resep menuju kehancuran finansial.

2. Tentukan Tujuan Investasi yang Jelas Mengapa Anda berinvestasi? Untuk membeli rumah 5 tahun lagi? Untuk dana pensiun 20 tahun lagi? Atau untuk biaya pendidikan anak? Tujuan yang jelas akan menjadi kompas bagi strategi investasi Anda. Ini akan membantu Anda menentukan jangka waktu investasi, tingkat risiko yang sanggup Anda tolerir, dan target keuntungan yang realistis. Tanpa tujuan, investasi Anda akan terasa seperti berjalan tanpa arah, mudah goyah diterpa angin pasar.

3. Edukasi Diri Anda Secara Berkelanjutan Dunia saham itu luas, dan belajar adalah proses seumur hidup. Untuk pemula, mulailah dengan memahami dasar-dasar: * Apa itu saham? * Apa itu indeks harga saham gabungan (IHSG)? * Bagaimana mekanisme pembelian dan penjualan? * Bagaimana membaca laporan keuangan sederhana sebuah perusahaan? * Apa saja jenis-jenis saham? Hindari membeli saham hanya karena ikut-ikutan. Ada banyak sumber belajar gratis di internet, buku, atau seminar webinar yang bisa Anda manfaatkan. Pengetahuan adalah perisai terbaik Anda di pasar modal.

4. Pahami Risiko dan Jangan Pernah Abaikan Investasi saham memang menawarkan potensi keuntungan yang tinggi, namun juga datang dengan risiko. Harga saham bisa naik, tapi juga bisa turun. Jangan pernah berinvestasi dengan uang yang tidak Anda relakan hilang. Pahami bahwa ada kemungkinan kerugian, dan bersiaplah secara mental untuk menghadapinya. Ini bukan berarti Anda akan selalu rugi, tetapi Anda harus realistis dan tidak naif.

5. Mental yang Kuat dan Emosi yang Terkendali Pasar saham adalah medan perang emosi. Akan ada saatnya saham Anda naik tinggi, dan akan ada saatnya saham Anda anjlok. Keserakahan saat naik dan kepanikan saat turun adalah musuh utama investor. Latih mental Anda untuk tetap tenang, berpegang pada rencana, dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan desas-desus atau perasaan sesaat.


Langkah Praktis Memulai Investasi Saham dengan Modal Kecil

Setelah fondasi kuat terbangun, kini saatnya melangkah lebih jauh ke bagian teknis. Ini adalah panduan praktis untuk Anda yang ingin segera terjun ke dunia saham.

1. Pilih Sekuritas (Broker Saham) yang Tepat Ini adalah gerbang utama Anda ke pasar saham. Pilihlah sekuritas yang: * Terdaftar dan Diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK): Ini mutlak penting untuk keamanan dana Anda. * Reputasi Baik: Cari ulasan dari pengguna lain, pastikan tidak ada catatan buruk. * Biaya Transaksi Kompetitif: Setiap beli dan jual saham akan dikenakan biaya komisi. Cari yang menawarkan komisi relatif rendah namun tetap profesional. * Platform yang User-Friendly: Untuk pemula, pilih aplikasi atau website yang mudah dipahami dan digunakan, tidak terlalu rumit. * Edukasi dan Layanan Pelanggan: Beberapa sekuritas menyediakan materi edukasi atau customer service yang responsif.

2. Buka Rekening Saham (Rekening Dana Nasabah - RDN) Proses pembukaan RDN kini semakin mudah, bisa dilakukan secara online. Anda hanya perlu menyiapkan KTP, NPWP (jika ada), dan rekening bank pribadi. Ikuti instruksi dari sekuritas pilihan Anda. Setelah RDN aktif, Anda bisa menyetorkan dana sesuai modal awal Anda. Ingat, sesuaikan dengan kemampuan dan strategi investasi Anda, bahkan jika minimal depositnya sangat rendah. Mulailah dengan jumlah yang Anda rasa nyaman untuk bereksperimen dan belajar.

3. Pahami Istilah Penting dalam Perdagangan Saham Tidak perlu hafal semua istilah, tapi beberapa dasar ini akan sangat membantu: * Lot: Satuan perdagangan saham. Di Indonesia, 1 lot = 100 lembar saham. Jadi, jika harga saham Rp1.000, Anda perlu Rp100.000 untuk membeli 1 lot. * Bid/Offer: Ini adalah harga beli (bid) dan harga jual (offer) yang ditawarkan di pasar. Anda akan melihat antrean harga ini di platform sekuritas Anda. * Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): Ini adalah indikator pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG naik berarti rata-rata harga saham sedang naik, begitu pula sebaliknya. * Dividen: Pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham. Ini adalah salah satu cara investor mendapatkan pengembalian selain dari kenaikan harga saham.

4. Analisis Sederhana: Fokus pada Fundamental Perusahaan Sebagai pemula dengan modal kecil, fokuslah pada analisis fundamental, bukan trading harian yang butuh analisis teknikal dan kecepatan tinggi. Analisis fundamental berarti Anda mempelajari kesehatan dan prospek bisnis perusahaan: * Apakah perusahaan ini punya produk/jasa yang dibutuhkan banyak orang? * Bagaimana kinerja keuangannya dalam beberapa tahun terakhir? Apakah pendapatannya tumbuh stabil? Apakah labanya konsisten? * Bagaimana posisi perusahaan di industrinya? Apakah punya keunggulan kompetitif? * Siapa manajemennya? Apakah mereka kompeten dan punya rekam jejak bagus? Anda tidak perlu menjadi akuntan untuk ini. Banyak informasi tersedia di website resmi perusahaan, laporan keuangan yang bisa diunduh gratis dari situs BEI, atau berita-berita ekonomi.


Strategi Investasi Aman & Menguntungkan untuk Pemula Bermodal Kecil

Membeli saham itu mudah, tapi membeli saham yang tepat dengan strategi yang benar itu seni. Untuk Anda yang bermodal kecil, strategi berikut adalah kunci keberhasilan.

1. Fokus pada Investasi Jangka Panjang, Hindari Trading Harian Ini adalah mantra utama. Trading harian (beli-jual dalam hitungan jam/hari) membutuhkan modal besar, pengetahuan teknikal mendalam, dan mental baja. Untuk pemula, itu adalah resep bencana. Berpikirlah sebagai investor, bukan trader. Anda membeli saham sebuah perusahaan dan berniat memegangnya selama bertahun-tahun (5, 10, 20 tahun ke depan). Fokus pada pertumbuhan bisnis, bukan fluktuasi harga harian.


2. Terapkan Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) DCA adalah strategi di mana Anda menginvestasikan sejumlah uang yang sama secara rutin (misalnya, setiap bulan) ke dalam saham tertentu, tanpa mempedulikan harga pasar saat itu. * Manfaatnya: Ketika harga saham tinggi, Anda membeli lebih sedikit lot. Ketika harga saham rendah, Anda membeli lebih banyak lot. * Keuntungan: Dalam jangka panjang, strategi ini akan meratakan harga rata-rata beli Anda, mengurangi risiko panik membeli di puncak atau panik menjual di lembah. Ini sangat cocok untuk Anda yang punya modal terbatas tapi rutin mengalokasikannya.


3. Pilih Saham Blue Chip atau Saham Unggulan yang Stabil Untuk memulai, hindari saham "gorengan" atau saham perusahaan kecil yang naik-turunnya ekstrem. Fokuslah pada saham-saham blue chip atau saham unggulan yang: * Memiliki kapitalisasi pasar besar. * Fundamental keuangan yang kuat dan stabil. * Reputasi bisnis yang baik dan sudah terbukti. * Sering masuk indeks LQ45 atau IDX30. Contoh perusahaan yang bisa Anda lirik di Indonesia adalah saham bank-bank besar (seperti BBCA, BBRI, BMRI), perusahaan telekomunikasi (TLKM), atau perusahaan konsumer yang produknya dipakai sehari-hari (UNVR, ICBP). Saham-saham ini cenderung lebih stabil dan prospek pertumbuhannya lebih terukur.


4. Diversifikasi Sederhana, Bahkan dengan Modal Kecil Meskipun modal Anda terbatas, usahakan untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang. Diversifikasi artinya menyebar investasi Anda ke beberapa saham atau sektor yang berbeda. * Contoh: Jika Anda punya Rp500.000, daripada membeli 5 lot saham A, lebih baik beli 2 lot saham A dan 3 lot saham B dari sektor yang berbeda. * Tujuan: Jika salah satu saham Anda performanya kurang baik, saham lain mungkin bisa menutupi kerugiannya, sehingga risiko portofolio Anda menjadi lebih terjaga. Ini adalah prinsip dasar manajemen risiko.


5. Lakukan Riset Perusahaan Secara Mandiri (Dasar Saja) Jangan malas! Meskipun Anda pemula, luangkan waktu untuk membaca sedikit tentang perusahaan yang ingin Anda beli sahamnya. Kunjungi situs web perusahaan, baca berita-berita tentang industri mereka. Pahami apa yang mereka jual, bagaimana mereka menghasilkan uang, dan siapa target pasarnya. Ini akan membantu Anda merasa lebih yakin dengan keputusan investasi Anda dan mengurangi kecenderungan panik saat ada fluktuasi harga.


6. Jangan Pernah Terpancing Fear Of Missing Out (FOMO) Ini adalah salah satu jebakan terbesar bagi investor pemula. Ketika Anda melihat saham teman Anda naik pesat, atau membaca berita tentang saham yang melonjak tinggi, godaan untuk ikut membeli sangat besar. Tahan diri Anda! Seringkali, saat Anda baru ikut, harga sudah di puncak dan justru akan berbalik arah. Tetaplah disiplin dengan strategi Anda, fokus pada riset Anda, dan jangan mudah terbawa emosi atau bisikan dari "ahli" dadakan.


7. Pemanfaatan Dividen (Reinvestasi) Jika perusahaan yang sahamnya Anda miliki membagikan dividen, pertimbangkan untuk mereinvestasikan dividen tersebut untuk membeli lebih banyak saham. Ini akan memicu efek bunga majemuk, di mana keuntungan Anda ikut menghasilkan keuntungan, mempercepat pertumbuhan portofolio Anda dalam jangka panjang.


Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan Pemula (dan Cara Menghindarinya)

Belajar dari kesalahan orang lain jauh lebih baik daripada melakukan kesalahan sendiri. Berikut adalah beberapa lubang jebakan yang seringkali menjerat investor pemula.

1. Tidak Punya Dana Darurat dan Berinvestasi dengan Uang Panas: Ini sudah saya bahas, tapi penting untuk ditekankan lagi. Jangan pernah berinvestasi dengan uang yang Anda butuhkan dalam waktu dekat. Ini adalah tiket menuju kehancuran.

2. Tergiur Untung Cepat dan Berinvestasi Spekulatif: Jangan percaya dengan janji-janji keuntungan instan atau skema "pasti untung". Pasar saham itu tentang pertumbuhan jangka panjang, bukan lotre.

3. Tidak Melakukan Riset Sama Sekali: Membeli saham hanya karena "kata teman" atau "lagi viral" adalah tindakan bunuh diri finansial. Selalu lakukan riset, sekecil apapun itu.

4. Panik Saat Pasar Koreksi atau Saham Turun: Pasar saham itu dinamis, ada naik dan ada turun. Saat pasar koreksi (turun), banyak pemula yang panik dan menjual rugi sahamnya. Padahal, koreksi adalah kesempatan emas untuk membeli saham berkualitas dengan harga diskon bagi investor jangka panjang.

5. Menginvestasikan Semua Uang dalam Satu Saham atau Sektor: Ini adalah kebalikan dari diversifikasi. Risiko Anda akan sangat tinggi jika semua modal Anda terkonsentrasi pada satu titik.

6. Mendengarkan "Bisikan" dan Saran Tanpa Analisa Kritis: Hati-hati dengan grup Telegram atau influencer yang sering memberikan "sinyal" saham. Mereka mungkin punya agenda lain atau analisis yang dangkal. Selalu lakukan analisis mandiri Anda.


Psikologi Investor: Kunci Keberhasilan Jangka Panjang

Investasi saham bukan hanya tentang angka dan grafik, tetapi juga tentang bagaimana Anda mengelola diri sendiri. Psikologi investor memegang peranan vital dalam menentukan apakah Anda akan berhasil atau gagal.

1. Disiplin dan Kesabaran Adalah Segalanya Pasar saham tidak akan membuat Anda kaya dalam semalam, tapi bisa membuat Anda kaya seumur hidup. Diperlukan disiplin untuk berinvestasi secara rutin (DCA) dan kesabaran untuk melihat hasil investasi Anda bertumbuh dalam jangka panjang. Anggaplah Anda sedang menanam pohon: butuh waktu dan perawatan untuk melihatnya berbuah.


2. Mengelola Emosi: Takut dan Serakah Dua emosi ini adalah biang keladi kegagalan investor. * Keserakahan: Mendorong Anda untuk membeli saham yang sudah terlalu tinggi atau mengambil risiko berlebihan demi keuntungan yang lebih besar. * Ketakutan: Mendorong Anda untuk menjual saham bagus saat pasar sedang koreksi, atau tidak berani masuk saat ada peluang. Belajarlah untuk mengenali dan mengendalikan emosi ini. Buatlah rencana investasi dan patuhilah itu, terlepas dari apa pun yang terjadi di pasar.


3. Belajar dari Kesalahan (dan Sukses Kecil) Tidak ada investor yang tidak pernah membuat kesalahan. Yang membedakan investor sukses adalah kemauan untuk belajar dari kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya. Demikian pula, rayakan sukses-sukses kecil Anda, ini akan memupuk kepercayaan diri dan motivasi.


4. Pandangan Jangka Panjang yang Konsisten Ketika Anda melihat pergerakan harga saham, cobalah untuk memperluas pandangan Anda. Daripada melihat pergerakan harian, lihatlah grafik bulanan, tahunan, bahkan dekade. Anda akan menyadari bahwa meskipun ada fluktuasi jangka pendek, pasar saham cenderung naik dalam jangka panjang, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan inovasi.


Bagaimana Mengawasi dan Menyesuaikan Portofolio Anda

Meskipun Anda adalah investor jangka panjang, bukan berarti Anda bisa meninggalkan portofolio Anda begitu saja. Pemantauan dan penyesuaian berkala tetap diperlukan.

1. Review Berkala, Jangan Setiap Hari Luangkan waktu setidaknya sebulan sekali atau per kuartal untuk meninjau portofolio Anda. Ini bukan untuk panik karena harga turun, melainkan untuk: * Mengecek kinerja perusahaan yang sahamnya Anda miliki (apakah fundamentalnya masih bagus?). * Melihat apakah ada berita penting yang mempengaruhi industri perusahaan Anda. * Memastikan alokasi aset Anda masih sesuai dengan tujuan investasi Anda.


2. Rebalancing Portofolio (Jika Diperlukan) Seiring waktu, beberapa saham Anda mungkin tumbuh lebih cepat dari yang lain, membuat bobotnya di portofolio Anda menjadi terlalu besar. Rebalancing adalah tindakan menjual sebagian saham yang sudah naik terlalu tinggi (jika bobotnya berlebihan) dan mengalihkan dananya ke saham lain yang mungkin undervalued atau yang bobotnya berkurang. Ini membantu menjaga diversifikasi dan profil risiko portofolio Anda tetap sesuai target. Namun, untuk pemula dengan modal sangat kecil, rebalancing mungkin belum terlalu relevan di tahap awal.


3. Tetap Update Informasi Perusahaan yang Anda Miliki Ikuti berita-berita ekonomi dan bisnis, terutama yang berkaitan dengan perusahaan atau sektor tempat Anda berinvestasi. Ini bukan berarti Anda harus terobsesi dengan setiap detail, tetapi cukup untuk mengetahui gambaran besar dan potensi perubahan yang signifikan yang bisa memengaruhi investasi Anda. Ingat, informasi adalah kekuatan.


Investasi saham, bahkan dengan modal kecil, adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar. Ini bukanlah jalan pintas menuju kekayaan, melainkan sebuah maraton yang membangun kekayaan secara gradual dan berkelanjutan. Dari pengalaman saya, kunci utamanya adalah memulai, tidak takut dengan angka-angka besar, dan terus berpegang pada prinsip-prinsip dasar investasi yang aman. Ingatlah selalu, setiap investor besar pernah menjadi seorang pemula. Mari kita mulai perjalanan ini bersama, satu lot demi satu lot, menuju masa depan finansial yang lebih cerah!


Tanya Jawab Seputar Investasi Saham untuk Pemula Bermodal Kecil

1. Berapa modal minimal yang ideal untuk mulai investasi saham? Jawab: Secara teknis, banyak sekuritas di Indonesia menetapkan modal minimal yang sangat rendah, ada yang bahkan mulai dari Rp100.000. Namun, idealnya, mulailah dengan jumlah yang Anda rasa nyaman untuk dialokasikan secara rutin tanpa mengganggu kebutuhan sehari-hari atau dana darurat Anda. Angka ideal bisa bervariasi bagi setiap orang, namun penting untuk memastikan bahwa dana yang diinvestasikan adalah dana "nganggur" yang siap untuk jangka panjang.

2. Apakah saham hanya untuk orang kaya? Jawab: Sama sekali tidak! Ini adalah salah satu mitos terbesar yang harus dipecahkan. Dengan kemajuan teknologi dan kebijakan bursa, investasi saham kini sangat demokratis dan bisa diakses oleh siapa saja dengan modal berapapun. Konsep 1 lot = 100 lembar saham juga membuat harga per lot menjadi terjangkau, bahkan untuk saham blue chip sekalipun.

3. Bagaimana cara memilih sekuritas yang aman dan terpercaya? Jawab: Pastikan sekuritas tersebut terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia. Periksa rekam jejaknya, baca ulasan dari pengguna lain, dan bandingkan biaya transaksinya. Pilih juga yang platform perdagangannya user-friendly dan menyediakan layanan pelanggan yang responsif.

4. Apa itu strategi DCA dan mengapa cocok untuk pemula? Jawab: Dollar-Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana Anda menyetorkan jumlah uang yang sama secara rutin (misalnya, setiap bulan) untuk membeli saham, tanpa mempedulikan harga pasar saat itu. Strategi ini sangat cocok untuk pemula karena mengurangi risiko membeli di puncak dan meratakan harga rata-rata beli Anda dalam jangka panjang. Ini juga melatih disiplin investasi dan mengurangi tekanan emosional untuk "menebak" waktu yang tepat untuk membeli.

5. Kapan waktu terbaik untuk membeli atau menjual saham? Jawab: Untuk investor pemula dengan strategi jangka panjang, waktu terbaik untuk membeli adalah secara rutin dan konsisten melalui strategi DCA, terlepas dari naik turunnya pasar. Jangan mencoba "timing the market" karena itu sangat sulit bahkan bagi profesional. Waktu terbaik untuk menjual adalah ketika tujuan investasi Anda sudah tercapai, atau ketika fundamental perusahaan yang Anda miliki mengalami perubahan negatif yang signifikan. Jangan menjual hanya karena panik melihat harga turun sementara fundamental perusahaan masih bagus.

Pernyataan Cetak Ulang: Artikel dan hak cipta yang dipublikasikan di situs ini adalah milik penulis aslinya. Harap sebutkan sumber artikel saat mencetak ulang dari situs ini!

Tautan artikel ini:https://cxynani.com/menabung/6594.html

Artikel populer
Artikel acak
Posisi iklan sidebar