Pusing dengan FIFO? Ini Kumpulan Contoh Soal Persediaan Barang Dagang Metode FIFO Lengkap dengan Jawaban, Perpetual, Periodik & Jurnal

admin2025-08-07 02:21:0668Keuangan Pribadi

Mengungkap Rahasia FIFO: Panduan Lengkap dan Contoh Soal Akuntansi Persediaan Barang Dagang yang Dijamin Bikin Paham!

Halo para pengusaha tangguh dan calon akuntan hebat di seluruh Nusantara! Sebagai seorang profesional yang telah berkecimpung di dunia bisnis dan keuangan selama bertahun-tahun, saya sangat memahami "pusingnya" ketika harus berhadapan dengan perhitungan persediaan barang dagang. Apalagi jika itu menyangkut metode FIFO. Saya sering mendengar keluhan, "Duh, ini barang masuk pertama, keluar pertama, tapi kok perhitungannya jadi rumit begini?" Jangan khawatir! Anda tidak sendirian. Keahlian menguasai metode persediaan ini adalah aset krusial yang membedakan bisnis yang sekadar berjalan dengan bisnis yang benar-benar tumbuh dan berkelanjutan.

Dalam artikel komprehensif ini, kita akan membongkar tuntas segala seluk-beluk FIFO atau First-In, First-Out. Saya akan membagikan panduan langkah demi langkah, dilengkapi dengan contoh soal nyata yang mencakup pencatatan metode perpetual dan periodik, beserta jurnal-jurnal yang relevan. Persiapkan diri Anda, karena setelah ini, bukan hanya rasa pusing yang hilang, melainkan Anda akan menguasai FIFO seperti seorang ahli!

Pusing dengan FIFO? Ini Kumpulan Contoh Soal Persediaan Barang Dagang Metode FIFO Lengkap dengan Jawaban, Perpetual, Periodik & Jurnal

Mengapa FIFO Begitu Penting dalam Dunia Bisnis?

Sebelum kita menyelami angka-angka, mari kita pahami dulu mengapa FIFO bukan sekadar teori akuntansi, melainkan tulang punggung bagi banyak keputusan bisnis strategis. FIFO mengasumsikan bahwa unit persediaan yang pertama kali dibeli atau diproduksi adalah yang pertama kali dijual. Ini terdengar logis, bukan? Bayangkan Anda memiliki toko roti; tentu Anda akan menjual roti yang baru dipanggang beberapa jam lalu sebelum menjual roti yang sudah bermalam, bukan? Prinsip inilah yang diadaptasi dalam akuntansi.

Beberapa poin krusial yang menjadikan FIFO sangat relevan:

  • Pencerminan Alur Fisik: Untuk banyak jenis bisnis, terutama yang menjual barang dengan masa kadaluarsa atau barang yang cepat usang (makanan, minuman, pakaian musim), FIFO mencerminkan pergerakan fisik barang yang paling akurat. Ini adalah pendekatan yang paling intuitif bagi banyak pengusaha.
  • Akurasi Laporan Keuangan: Dengan FIFO, nilai persediaan akhir cenderung mencerminkan biaya pembelian terkini, terutama dalam kondisi inflasi. Hal ini karena barang yang lebih lama (dengan biaya lebih rendah di masa inflasi) sudah diasumsikan terjual. Ini memberikan gambaran yang lebih realistis tentang nilai aset persediaan perusahaan.
  • Kesesuaian dengan Standar Akuntansi: Di banyak yurisdiksi, termasuk yang mengikuti IFRS (International Financial Reporting Standards) dan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) tertentu, FIFO adalah metode yang sangat diterima dan sering direkomendasikan, bahkan LIFO (Last-In, First-Out) dilarang di bawah IFRS.
  • Dampak pada Pajak: Dalam periode inflasi, FIFO umumnya menghasilkan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang lebih rendah dan laba bersih yang lebih tinggi, yang berarti potensi pajak yang lebih besar. Ini penting untuk perencanaan pajak. Sebaliknya, dalam periode deflasi, FIFO akan menghasilkan HPP yang lebih tinggi dan laba bersih yang lebih rendah.
  • Pengambilan Keputusan Bisnis: Dengan pemahaman yang solid tentang bagaimana persediaan bergerak dan dihargai, Anda dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang penetapan harga, promosi, dan bahkan strategi pembelian.

Memahami poin-poin ini adalah langkah pertama untuk menghilangkan kerumitan FIFO. Ini bukan hanya tentang angka, tapi tentang logika bisnis yang mendalam.


Mengenal Sistem Pencatatan Persediaan: Perpetual vs. Periodik

Sebelum kita masuk ke contoh soal, penting untuk membedakan dua sistem pencatatan persediaan yang mendasar:

1. Sistem Perpetual (Terus-menerus)

Sistem ini adalah impian setiap akuntan yang ingin akurasi real-time. Dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi yang melibatkan persediaan (pembelian, penjualan, retur), catatan persediaan akan langsung diperbarui.

  • Bagaimana Cara Kerjanya: Setiap pembelian dicatat di akun Persediaan, dan setiap penjualan tidak hanya mencatat pendapatan penjualan, tetapi juga secara simultan mencatat Harga Pokok Penjualan (HPP) dan mengurangi akun Persediaan. Ini mirip dengan "kasir pintar" yang tahu persis berapa stok barang yang ada di gudang setiap saat.
  • Kelebihan:
    • Informasi Akurat dan Terkini: Anda selalu tahu berapa banyak persediaan yang Anda miliki dan berapa HPP yang sudah terjadi.
    • Mempermudah Pengendalian: Deteksi dini terhadap kekurangan atau kelebihan persediaan.
    • Tidak Perlu Stock Opname Rutin untuk HPP: HPP sudah terhitung otomatis setelah setiap penjualan.
  • Kekurangan:
    • Membutuhkan Sistem dan Sumber Daya Lebih Canggih: Idealnya menggunakan perangkat lunak akuntansi atau ERP.
    • Risiko Kesalahan Input: Jika tidak teliti, data bisa tidak akurat.
    • Masih Butuh Stock Opname Fisik: Untuk memverifikasi kesesuaian catatan dengan kondisi fisik, meskipun tidak sesering periodik.

2. Sistem Periodik (Berkala)

Sistem ini adalah pilihan bagi bisnis yang lebih sederhana atau yang memiliki volume transaksi persediaan yang sangat tinggi dengan nilai unit yang relatif rendah. Dalam sistem periodik, pencatatan HPP dan penyesuaian persediaan dilakukan hanya pada akhir periode akuntansi (misalnya, akhir bulan, kuartal, atau tahun) setelah melakukan perhitungan fisik persediaan (stock opname).

  • Bagaimana Cara Kerjanya: Saat ada pembelian, dicatat di akun Pembelian (bukan langsung ke Persediaan). Saat penjualan, hanya mencatat pendapatan penjualan. HPP baru dihitung di akhir periode dengan rumus: Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir.
  • Kelebihan:
    • Lebih Sederhana dan Murah: Tidak memerlukan sistem pelacakan yang kompleks.
    • Cocok untuk Barang Bervolume Tinggi/Bernilai Rendah: Seperti toko kelontong, alat tulis.
  • Kekurangan:
    • Tidak Memberikan Data Real-time: Tidak tahu persediaan dan HPP terkini sampai akhir periode.
    • Membutuhkan Stock Opname Fisik yang Intensif: Sangat bergantung pada perhitungan fisik yang akurat di akhir periode.
    • Lebih Sulit Mengidentifikasi Kerugian: Kekurangan barang karena pencurian atau kerusakan baru terdeteksi saat stock opname.

Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk memahami bagaimana FIFO diterapkan dalam setiap sistem.


Contoh Soal 1: Skema Sederhana FIFO - Perpetual dan Periodik

Mari kita mulai dengan skenario paling dasar untuk memahami inti FIFO.

PT Maju Jaya adalah distributor produk elektronik. Berikut adalah transaksi persediaan untuk produk "Smart Speaker X" selama bulan Mei 2024:

  • 1 Mei: Persediaan awal 10 unit @ Rp 1.000.000
  • 5 Mei: Pembelian 20 unit @ Rp 1.100.000
  • 10 Mei: Penjualan 15 unit
  • 15 Mei: Pembelian 25 unit @ Rp 1.200.000
  • 20 Mei: Penjualan 30 unit

Tugas: Hitung HPP dan Nilai Persediaan Akhir menggunakan metode FIFO dengan sistem perpetual dan periodik, serta jurnalnya.


Penyelesaian dengan Sistem Perpetual (FIFO)

Dalam sistem perpetual, setiap transaksi dicatat secara detail. Kita akan mengikuti alur masuk dan keluar barang.

| Tanggal | Keterangan | Pembelian (Unit @ Harga) | Penjualan (Unit @ Harga) | Persediaan (Unit @ Harga) | | :------- | :--------- | :----------------------- | :---------------------- | :------------------------ | | 1 Mei | Persediaan Awal | | | 10 unit @ Rp 1.000.000 | | 5 Mei | Pembelian | 20 unit @ Rp 1.100.000 | | 10 unit @ Rp 1.000.000
20 unit @ Rp 1.100.000 | | 10 Mei | Penjualan 15 unit | | 15 unit @ Rp 1.000.000 | 5 unit @ Rp 1.000.000
20 unit @ Rp 1.100.000 | | | | | (10 unit dari persediaan awal, sisa 5 unit) | | | 15 Mei | Pembelian | 25 unit @ Rp 1.200.000 | | 5 unit @ Rp 1.000.000
20 unit @ Rp 1.100.000
25 unit @ Rp 1.200.000 | | 20 Mei | Penjualan 30 unit | | 5 unit @ Rp 1.000.000
20 unit @ Rp 1.100.000
5 unit @ Rp 1.200.000 | 20 unit @ Rp 1.200.000 | | | | | (5 unit dari persediaan 1 Mei, 20 unit dari 5 Mei, sisa 5 unit dari 15 Mei) | |

Perhitungan:

  • Total HPP (Harga Pokok Penjualan):

    • Penjualan 10 Mei: 10 unit @ Rp 1.000.000 = Rp 10.000.000 (dari persediaan awal)
    • Penjualan 10 Mei: 5 unit @ Rp 1.100.000 = Rp 5.500.000 (dari pembelian 5 Mei)
    • Penjualan 20 Mei: 5 unit @ Rp 1.000.000 = Rp 5.000.000 (sisa persediaan awal)
    • Penjualan 20 Mei: 20 unit @ Rp 1.100.000 = Rp 22.000.000 (sisa pembelian 5 Mei)
    • Penjualan 20 Mei: 5 unit @ Rp 1.200.000 = Rp 6.000.000 (dari pembelian 15 Mei)
    • Total HPP = Rp 10.000.000 + Rp 5.500.000 + Rp 5.000.000 + Rp 22.000.000 + Rp 6.000.000 = Rp 48.500.000
  • Nilai Persediaan Akhir (31 Mei):

    • 20 unit @ Rp 1.200.000 = Rp 24.000.000 (ini adalah sisa dari pembelian 15 Mei)

Penyelesaian dengan Sistem Periodik (FIFO)

Dalam sistem periodik, kita hanya perlu mengetahui total persediaan awal, total pembelian, dan total penjualan pada akhir periode.

  1. Hitung Total Unit Tersedia untuk Dijual:

    • Persediaan Awal: 10 unit
    • Pembelian 5 Mei: 20 unit
    • Pembelian 15 Mei: 25 unit
    • Total Unit Tersedia = 10 + 20 + 25 = 55 unit
  2. Hitung Total Unit Terjual:

    • Penjualan 10 Mei: 15 unit
    • Penjualan 20 Mei: 30 unit
    • Total Unit Terjual = 15 + 30 = 45 unit
  3. Hitung Unit Persediaan Akhir:

    • Unit Tersedia untuk Dijual - Unit Terjual = 55 - 45 = 10 unit
    • Perhatikan, hasil ini berbeda dengan perpetual karena perhitungan saya di perpetual salah. Unit akhir perpetual adalah 20 unit. Ini adalah pelajaran penting: selalunya periksa kembali perhitungan!
    • Koreksi perpetual: Unit terjual 15 unit (dari 10 unit @1jt, 5 unit @1.1jt). Sisa: 5 unit @1.1jt.
    • Kemudian beli 25 unit @1.2jt. Total: 5 unit @1.1jt + 25 unit @1.2jt.
    • Jual 30 unit: 5 unit @1.1jt (habis) dan 25 unit @1.2jt (habis). Maka sisa 0 unit. Ini ada kesalahan fatal dalam contoh perpetual saya di atas. Perhatikan pentingnya cek silang.

Mari kita ulangi perhitungan perpetual di atas dengan teliti.

| Tanggal | Keterangan | Pembelian (Unit @ Harga) | Penjualan (Unit @ Harga) | Persediaan (Unit @ Harga) | | :------- | :--------- | :----------------------- | :---------------------- | :------------------------ | | 1 Mei | Persediaan Awal | | | 10 unit @ Rp 1.000.000 | | 5 Mei | Pembelian | 20 unit @ Rp 1.100.000 | | 10 unit @ Rp 1.000.000
20 unit @ Rp 1.100.000 | | 10 Mei | Penjualan 15 unit | | 10 unit @ Rp 1.000.000
5 unit @ Rp 1.100.000 | 15 unit @ Rp 1.100.000 | | | | | (HPP: Rp 10jt + Rp 5.5jt = Rp 15.5jt) | | | 15 Mei | Pembelian | 25 unit @ Rp 1.200.000 | | 15 unit @ Rp 1.100.000
25 unit @ Rp 1.200.000 | | 20 Mei | Penjualan 30 unit | | 15 unit @ Rp 1.100.000
15 unit @ Rp 1.200.000 | 10 unit @ Rp 1.200.000 | | | | | (HPP: Rp 16.5jt + Rp 18jt = Rp 34.5jt) | |

Perhitungan Koreksi Perpetual:

  • Total HPP (Harga Pokok Penjualan):

    • Penjualan 10 Mei: (10 unit @ Rp 1.000.000) + (5 unit @ Rp 1.100.000) = Rp 10.000.000 + Rp 5.500.000 = Rp 15.500.000
    • Penjualan 20 Mei: (15 unit @ Rp 1.100.000) + (15 unit @ Rp 1.200.000) = Rp 16.500.000 + Rp 18.000.000 = Rp 34.500.000
    • Total HPP = Rp 15.500.000 + Rp 34.500.000 = Rp 50.000.000
  • Nilai Persediaan Akhir (31 Mei):

    • 10 unit @ Rp 1.200.000 = Rp 12.000.000 (sisa dari pembelian 15 Mei)

Sistem Periodik (FIFO) - Lanjutan:

  1. Menentukan HPP (Periodik):

    • HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir
    • Kita harus menghitung dulu Nilai Persediaan Akhir.
    • Unit Persediaan Akhir = 10 unit. Karena FIFO, persediaan akhir diambil dari unit yang terakhir masuk.
    • Pembelian 15 Mei: 25 unit @ Rp 1.200.000
    • Nilai Persediaan Akhir = 10 unit @ Rp 1.200.000 = Rp 12.000.000
  2. Hitung Total Barang Tersedia untuk Dijual (dalam nilai):

    • Persediaan Awal: 10 unit @ Rp 1.000.000 = Rp 10.000.000
    • Pembelian 5 Mei: 20 unit @ Rp 1.100.000 = Rp 22.000.000
    • Pembelian 15 Mei: 25 unit @ Rp 1.200.000 = Rp 30.000.000
    • Total Barang Tersedia untuk Dijual = Rp 10.000.000 + Rp 22.000.000 + Rp 30.000.000 = Rp 62.000.000
  3. Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP) (Periodik):

    • HPP = Total Barang Tersedia untuk Dijual - Nilai Persediaan Akhir
    • HPP = Rp 62.000.000 - Rp 12.000.000 = Rp 50.000.000

Hasilnya: HPP dan Persediaan Akhir antara perpetual dan periodik (dengan FIFO) adalah SAMA. Ini adalah ciri khas metode FIFO.


Jurnal Transaksi (Asumsi Penjualan Kredit, Harga Jual Rp 1.500.000 per unit):

Jurnal dengan Sistem Perpetual:

  • 5 Mei: Pembelian 20 unit @ Rp 1.100.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 22.000.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 22.000.000
  • 10 Mei: Penjualan 15 unit (harga jual Rp 1.500.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 22.500.000 (15 unit x Rp 1.500.000)
    • (K) Penjualan Rp 22.500.000
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 15.500.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 15.500.000
  • 15 Mei: Pembelian 25 unit @ Rp 1.200.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 30.000.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 30.000.000
  • 20 Mei: Penjualan 30 unit (harga jual Rp 1.500.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 45.000.000 (30 unit x Rp 1.500.000)
    • (K) Penjualan Rp 45.000.000
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 34.500.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 34.500.000

Jurnal dengan Sistem Periodik:

  • 5 Mei: Pembelian 20 unit @ Rp 1.100.000
    • (D) Pembelian Rp 22.000.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 22.000.000
  • 10 Mei: Penjualan 15 unit (harga jual Rp 1.500.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 22.500.000
    • (K) Penjualan Rp 22.500.000
  • 15 Mei: Pembelian 25 unit @ Rp 1.200.000
    • (D) Pembelian Rp 30.000.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 30.000.000
  • 20 Mei: Penjualan 30 unit (harga jual Rp 1.500.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 45.000.000
    • (K) Penjualan Rp 45.000.000
  • 31 Mei: Jurnal Penyesuaian untuk HPP dan Persediaan Akhir
    • (D) Ikhtisar Laba Rugi (untuk menutup persediaan awal) Rp 10.000.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang (awal) Rp 10.000.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang (akhir) Rp 12.000.000
    • (K) Ikhtisar Laba Rugi (untuk mencatat persediaan akhir) Rp 12.000.000
    • (D) Ikhtisar Laba Rugi (untuk menutup akun pembelian) Rp 52.000.000 (Rp 22jt + Rp 30jt)
    • (K) Pembelian Rp 52.000.000
    • Alternatif untuk HPP:
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 50.000.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang (awal) Rp 10.000.000
    • (K) Pembelian Rp 52.000.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang (akhir) Rp 12.000.000
    • (K) Harga Pokok Penjualan (jurnal ini disesuaikan tergantung cara pembukuan HPP)

Contoh Soal 2: FIFO dengan Retur Pembelian

Retur pembelian sering terjadi, dan penting untuk memahami bagaimana hal itu memengaruhi perhitungan FIFO.

PT Harmoni Nusantara menjual perlengkapan musik. Berikut adalah transaksi untuk "Gitar Akustik Model C" selama bulan Juni 2024:

  • 1 Juni: Persediaan Awal 8 unit @ Rp 2.000.000
  • 5 Juni: Pembelian 15 unit @ Rp 2.100.000
  • 8 Juni: Retur Pembelian 3 unit dari pembelian 5 Juni
  • 12 Juni: Penjualan 10 unit
  • 18 Juni: Pembelian 20 unit @ Rp 2.200.000
  • 25 Juni: Penjualan 15 unit

Tugas: Hitung HPP dan Nilai Persediaan Akhir menggunakan FIFO dengan sistem perpetual dan periodik, serta jurnalnya.


Penyelesaian dengan Sistem Perpetual (FIFO) - Retur Pembelian

Ketika ada retur pembelian, unit dan biaya unit tersebut dikeluarkan dari tumpukan persediaan.

| Tanggal | Keterangan | Pembelian (Unit @ Harga) | Penjualan (Unit @ Harga) | Persediaan (Unit @ Harga) | | :------- | :--------- | :----------------------- | :---------------------- | :------------------------ | | 1 Juni | Persediaan Awal | | | 8 unit @ Rp 2.000.000 | | 5 Juni | Pembelian | 15 unit @ Rp 2.100.000 | | 8 unit @ Rp 2.000.000
15 unit @ Rp 2.100.000 | | 8 Juni | Retur Pembelian | (3 unit @ Rp 2.100.000) | | 8 unit @ Rp 2.000.000
12 unit @ Rp 2.100.000 | | | (dari pembelian 5 Juni) | | | | | 12 Juni | Penjualan 10 unit | | 8 unit @ Rp 2.000.000
2 unit @ Rp 2.100.000 | 10 unit @ Rp 2.100.000 | | | | | (HPP: Rp 16jt + Rp 4.2jt = Rp 20.2jt) | | | 18 Juni | Pembelian | 20 unit @ Rp 2.200.000 | | 10 unit @ Rp 2.100.000
20 unit @ Rp 2.200.000 | | 25 Juni | Penjualan 15 unit | | 10 unit @ Rp 2.100.000
5 unit @ Rp 2.200.000 | 15 unit @ Rp 2.200.000 | | | | | (HPP: Rp 21jt + Rp 11jt = Rp 32jt) | |

Perhitungan:

  • Total HPP (Harga Pokok Penjualan):

    • Penjualan 12 Juni: Rp 20.200.000
    • Penjualan 25 Juni: Rp 32.000.000
    • Total HPP = Rp 20.200.000 + Rp 32.000.000 = Rp 52.200.000
  • Nilai Persediaan Akhir (30 Juni):

    • 15 unit @ Rp 2.200.000 = Rp 33.000.000 (sisa dari pembelian 18 Juni)

Penyelesaian dengan Sistem Periodik (FIFO) - Retur Pembelian

Dalam periodik, retur pembelian mengurangi total pembelian bersih.

  1. Hitung Pembelian Bersih:

    • Pembelian 5 Juni: 15 unit @ Rp 2.100.000 = Rp 31.500.000
    • Retur Pembelian 8 Juni: 3 unit @ Rp 2.100.000 = Rp 6.300.000
    • Pembelian Bersih (5 Juni): Rp 31.500.000 - Rp 6.300.000 = Rp 25.200.000 (12 unit)
    • Pembelian 18 Juni: 20 unit @ Rp 2.200.000 = Rp 44.000.000
    • Total Pembelian Bersih (Unit) = 12 unit + 20 unit = 32 unit
    • Total Pembelian Bersih (Nilai) = Rp 25.200.000 + Rp 44.000.000 = Rp 69.200.000
  2. Hitung Total Unit Tersedia untuk Dijual:

    • Persediaan Awal: 8 unit
    • Total Pembelian Bersih: 32 unit
    • Total Unit Tersedia = 8 + 32 = 40 unit
  3. Hitung Total Unit Terjual:

    • Penjualan 12 Juni: 10 unit
    • Penjualan 25 Juni: 15 unit
    • Total Unit Terjual = 10 + 15 = 25 unit
  4. Hitung Unit Persediaan Akhir:

    • Unit Tersedia untuk Dijual - Unit Terjual = 40 - 25 = 15 unit
  5. Menentukan Nilai Persediaan Akhir (Periodik):

    • 15 unit ini diambil dari unit terakhir masuk (karena FIFO).
    • Pembelian 18 Juni: 20 unit @ Rp 2.200.000
    • Nilai Persediaan Akhir = 15 unit @ Rp 2.200.000 = Rp 33.000.000
  6. Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP) (Periodik):

    • Total Barang Tersedia untuk Dijual:
      • Persediaan Awal: 8 unit @ Rp 2.000.000 = Rp 16.000.000
      • Total Pembelian Bersih (Nilai): Rp 69.200.000
      • Total Barang Tersedia untuk Dijual = Rp 16.000.000 + Rp 69.200.000 = Rp 85.200.000
    • HPP = Total Barang Tersedia untuk Dijual - Nilai Persediaan Akhir
    • HPP = Rp 85.200.000 - Rp 33.000.000 = Rp 52.200.000

Sama seperti sebelumnya, HPP dan Persediaan Akhir antara perpetual dan periodik (dengan FIFO) adalah SAMA.


Jurnal Transaksi (Asumsi Penjualan Kredit, Harga Jual Rp 3.000.000 per unit):

Jurnal dengan Sistem Perpetual:

  • 5 Juni: Pembelian 15 unit @ Rp 2.100.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 31.500.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 31.500.000
  • 8 Juni: Retur Pembelian 3 unit @ Rp 2.100.000
    • (D) Kas/Utang Usaha Rp 6.300.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 6.300.000
  • 12 Juni: Penjualan 10 unit (harga jual Rp 3.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 30.000.000
    • (K) Penjualan Rp 30.000.000
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 20.200.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 20.200.000
  • 18 Juni: Pembelian 20 unit @ Rp 2.200.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 44.000.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 44.000.000
  • 25 Juni: Penjualan 15 unit (harga jual Rp 3.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 45.000.000
    • (K) Penjualan Rp 45.000.000
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 32.000.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 32.000.000

Jurnal dengan Sistem Periodik:

  • 5 Juni: Pembelian 15 unit @ Rp 2.100.000
    • (D) Pembelian Rp 31.500.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 31.500.000
  • 8 Juni: Retur Pembelian 3 unit @ Rp 2.100.000
    • (D) Kas/Utang Usaha Rp 6.300.000
    • (K) Retur Pembelian Rp 6.300.000
  • 12 Juni: Penjualan 10 unit (harga jual Rp 3.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 30.000.000
    • (K) Penjualan Rp 30.000.000
  • 18 Juni: Pembelian 20 unit @ Rp 2.200.000
    • (D) Pembelian Rp 44.000.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 44.000.000
  • 25 Juni: Penjualan 15 unit (harga jual Rp 3.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 45.000.000
    • (K) Penjualan Rp 45.000.000
  • 30 Juni: Jurnal Penyesuaian untuk HPP dan Persediaan Akhir
    • (D) Ikhtisar Laba Rugi Rp 16.000.000 (untuk menutup persediaan awal)
    • (K) Persediaan Barang Dagang (awal) Rp 16.000.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang (akhir) Rp 33.000.000
    • (K) Ikhtisar Laba Rugi Rp 33.000.000
    • (D) Ikhtisar Laba Rugi Rp 75.500.000 (Rp 31.5jt + Rp 44jt)
    • (K) Pembelian Rp 75.500.000
    • (D) Retur Pembelian Rp 6.300.000
    • (K) Ikhtisar Laba Rugi Rp 6.300.000
    • Atau alternatif penyajian HPP lebih langsung:
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 52.200.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang (awal) Rp 16.000.000
    • (K) Pembelian Rp 75.500.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang (akhir) Rp 33.000.000
    • (D) Retur Pembelian Rp 6.300.000
    • (K) Harga Pokok Penjualan (jurnal ini disesuaikan tergantung cara pembukuan HPP)

Contoh Soal 3: FIFO dengan Retur Penjualan

Retur penjualan adalah skenario lain yang sering membingungkan. Dalam FIFO, ketika barang dikembalikan oleh pelanggan, barang tersebut dimasukkan kembali ke dalam persediaan dengan biaya semula dan ditempatkan di "tumpukan" yang sesuai dengan waktu pembeliannya.

PT Inovasi Digital menjual laptop. Berikut adalah transaksi untuk "Laptop Super Cepat" selama bulan Juli 2024:

  • 1 Juli: Persediaan Awal 5 unit @ Rp 5.000.000
  • 7 Juli: Pembelian 12 unit @ Rp 5.200.000
  • 10 Juli: Penjualan 10 unit
  • 14 Juli: Retur Penjualan 2 unit dari penjualan 10 Juli
  • 20 Juli: Pembelian 15 unit @ Rp 5.300.000
  • 25 Juli: Penjualan 18 unit

Tugas: Hitung HPP dan Nilai Persediaan Akhir menggunakan FIFO dengan sistem perpetual dan periodik, serta jurnalnya.


Penyelesaian dengan Sistem Perpetual (FIFO) - Retur Penjualan

Ketika ada retur penjualan, unit barang dikembalikan ke persediaan dengan biaya perolehannya.

| Tanggal | Keterangan | Pembelian (Unit @ Harga) | Penjualan (Unit @ Harga) | Persediaan (Unit @ Harga) | | :------- | :--------- | :----------------------- | :---------------------- | :------------------------ | | 1 Juli | Persediaan Awal | | | 5 unit @ Rp 5.000.000 | | 7 Juli | Pembelian | 12 unit @ Rp 5.200.000 | | 5 unit @ Rp 5.000.000
12 unit @ Rp 5.200.000 | | 10 Juli | Penjualan 10 unit | | 5 unit @ Rp 5.000.000
5 unit @ Rp 5.200.000 | 7 unit @ Rp 5.200.000 | | | | | (HPP: Rp 25jt + Rp 26jt = Rp 51jt) | | | 14 Juli | Retur Penjualan | | | 5 unit @ Rp 5.000.000
7 unit @ Rp 5.200.000
5 unit @ Rp 5.200.000 | | | (2 unit dari penjualan 10 Juli) | | (HPP dikurangi: 2 unit @ Rp 5.000.000
& 0 unit @ Rp 5.200.000. Perhatikan urutannya.) | | | Ini adalah bagian yang tricky. Karena 5 unit @ 5jt terjual pertama, dan 5 unit @ 5.2jt selanjutnya. Jika 2 unit dikembalikan, diasumsikan itu adalah 2 unit dari yang paling "awal" terjual, yaitu yang @ 5.000.000. | | HPP dikurangi: 2 unit @ Rp 5.000.000 = Rp 10.000.000 | 2 unit @ Rp 5.000.000
(dikembalikan)
7 unit @ Rp 5.200.000 | | | Posisi di persediaan: 2 unit @ Rp 5.000.000 masuk kembali ke "tumpukan" paling awal. | | | | 20 Juli | Pembelian | 15 unit @ Rp 5.300.000 | | 2 unit @ Rp 5.000.000
7 unit @ Rp 5.200.000
15 unit @ Rp 5.300.000 | | 25 Juli | Penjualan 18 unit | | 2 unit @ Rp 5.000.000
7 unit @ Rp 5.200.000
9 unit @ Rp 5.300.000 | 6 unit @ Rp 5.300.000 | | | | | (HPP: Rp 10jt + Rp 36.4jt + Rp 47.7jt = Rp 94.1jt) | |

Perhitungan:

  • Total HPP (Harga Pokok Penjualan):

    • HPP Penjualan 10 Juli: Rp 51.000.000
    • HPP Retur Penjualan 14 Juli: (-) Rp 10.000.000 (2 unit @ Rp 5.000.000)
    • HPP Penjualan 25 Juli: (2 unit @ Rp 5.000.000) + (7 unit @ Rp 5.200.000) + (9 unit @ Rp 5.300.000) = Rp 10.000.000 + Rp 36.400.000 + Rp 47.700.000 = Rp 94.100.000
    • Total HPP = Rp 51.000.000 - Rp 10.000.000 + Rp 94.100.000 = Rp 135.100.000
  • Nilai Persediaan Akhir (31 Juli):

    • 6 unit @ Rp 5.300.000 = Rp 31.800.000 (sisa dari pembelian 20 Juli)

Penyelesaian dengan Sistem Periodik (FIFO) - Retur Penjualan

Dalam periodik, retur penjualan tidak secara langsung memengaruhi perhitungan HPP hingga akhir periode.

  1. Hitung Total Unit Tersedia untuk Dijual:

    • Persediaan Awal: 5 unit
    • Pembelian 7 Juli: 12 unit
    • Pembelian 20 Juli: 15 unit
    • Total Unit Tersedia = 5 + 12 + 15 = 32 unit
  2. Hitung Total Unit Terjual Bersih:

    • Penjualan 10 Juli: 10 unit
    • Penjualan 25 Juli: 18 unit
    • Retur Penjualan 14 Juli: 2 unit
    • Total Unit Terjual Bersih = (10 + 18) - 2 = 28 - 2 = 26 unit
  3. Hitung Unit Persediaan Akhir:

    • Unit Tersedia untuk Dijual - Unit Terjual Bersih = 32 - 26 = 6 unit
  4. Menentukan Nilai Persediaan Akhir (Periodik):

    • 6 unit ini diambil dari unit yang terakhir masuk.
    • Pembelian 20 Juli: 15 unit @ Rp 5.300.000
    • Nilai Persediaan Akhir = 6 unit @ Rp 5.300.000 = Rp 31.800.000
  5. Hitung Total Barang Tersedia untuk Dijual (dalam nilai):

    • Persediaan Awal: 5 unit @ Rp 5.000.000 = Rp 25.000.000
    • Pembelian 7 Juli: 12 unit @ Rp 5.200.000 = Rp 62.400.000
    • Pembelian 20 Juli: 15 unit @ Rp 5.300.000 = Rp 79.500.000
    • Total Barang Tersedia untuk Dijual = Rp 25.000.000 + Rp 62.400.000 + Rp 79.500.000 = Rp 166.900.000
  6. Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP) (Periodik):

    • HPP = Total Barang Tersedia untuk Dijual - Nilai Persediaan Akhir
    • HPP = Rp 166.900.000 - Rp 31.800.000 = Rp 135.100.000

Lagi-lagi, HPP dan Persediaan Akhir antara perpetual dan periodik (dengan FIFO) adalah SAMA. Ini menegaskan konsistensi FIFO dalam kedua sistem pencatatan.


Jurnal Transaksi (Asumsi Penjualan Kredit, Harga Jual Rp 7.000.000 per unit):

Jurnal dengan Sistem Perpetual:

  • 7 Juli: Pembelian 12 unit @ Rp 5.200.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 62.400.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 62.400.000
  • 10 Juli: Penjualan 10 unit (harga jual Rp 7.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 70.000.000
    • (K) Penjualan Rp 70.000.000
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 51.000.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 51.000.000
  • 14 Juli: Retur Penjualan 2 unit (dari penjualan 10 Juli, biaya Rp 5.000.000/unit)
    • (D) Retur Penjualan dan Potongan Penjualan Rp 14.000.000 (2 unit x Rp 7.000.000)
    • (K) Piutang Usaha Rp 14.000.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 10.000.000 (2 unit x Rp 5.000.000)
    • (K) Harga Pokok Penjualan Rp 10.000.000
  • 20 Juli: Pembelian 15 unit @ Rp 5.300.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang Rp 79.500.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 79.500.000
  • 25 Juli: Penjualan 18 unit (harga jual Rp 7.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 126.000.000
    • (K) Penjualan Rp 126.000.000
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 94.100.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang Rp 94.100.000

Jurnal dengan Sistem Periodik:

  • 7 Juli: Pembelian 12 unit @ Rp 5.200.000
    • (D) Pembelian Rp 62.400.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 62.400.000
  • 10 Juli: Penjualan 10 unit (harga jual Rp 7.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 70.000.000
    • (K) Penjualan Rp 70.000.000
  • 14 Juli: Retur Penjualan 2 unit (harga jual Rp 7.000.000/unit)
    • (D) Retur Penjualan dan Potongan Penjualan Rp 14.000.000
    • (K) Piutang Usaha Rp 14.000.000
  • 20 Juli: Pembelian 15 unit @ Rp 5.300.000
    • (D) Pembelian Rp 79.500.000
    • (K) Kas/Utang Usaha Rp 79.500.000
  • 25 Juli: Penjualan 18 unit (harga jual Rp 7.000.000/unit)
    • (D) Piutang Usaha Rp 126.000.000
    • (K) Penjualan Rp 126.000.000
  • 31 Juli: Jurnal Penyesuaian untuk HPP dan Persediaan Akhir
    • (D) Ikhtisar Laba Rugi Rp 25.000.000 (untuk menutup persediaan awal)
    • (K) Persediaan Barang Dagang (awal) Rp 25.000.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang (akhir) Rp 31.800.000
    • (K) Ikhtisar Laba Rugi Rp 31.800.000
    • (D) Ikhtisar Laba Rugi Rp 141.900.000 (Rp 62.4jt + Rp 79.5jt)
    • (K) Pembelian Rp 141.900.000
    • Atau alternatif penyajian HPP lebih langsung:
    • (D) Harga Pokok Penjualan Rp 135.100.000
    • (K) Persediaan Barang Dagang (awal) Rp 25.000.000
    • (K) Pembelian Rp 141.900.000
    • (D) Persediaan Barang Dagang (akhir) Rp 31.800.000
    • (K) Harga Pokok Penjualan (jurnal ini disesuaikan tergantung cara pembukuan HPP)

Pandangan Pribadi: Mengapa Menguasai FIFO Adalah Investasi Masa Depan

Sebagai seorang blogger yang juga praktisi di lapangan, saya sering melihat bagaimana penguasaan konsep dasar seperti FIFO ini menjadi pembeda signifikan antara bisnis yang berkembang pesat dan yang stagnan. Mengapa?

Pertama, ini tentang kepercayaan. Investor, bank, dan bahkan calon mitra bisnis Anda akan melihat laporan keuangan. Laporan yang akurat dan transparan, yang dihasilkan dari penerapan metode akuntansi yang benar, membangun kepercayaan. Ketika Anda bisa menjelaskan dengan detail mengapa nilai persediaan Anda sekian atau HPP Anda segitu, itu menunjukkan kompetensi dan profesionalisme.

Kedua, ini tentang keputusan strategis. Bayangkan Anda berada dalam periode inflasi. Jika Anda salah memilih metode persediaan atau tidak konsisten menerapkannya, Anda bisa jadi salah menghitung laba, membayar pajak terlalu tinggi, atau sebaliknya, terlalu rendah sehingga berujung pada denda. Dengan FIFO, Anda akan melihat laba kotor yang lebih tinggi (dalam inflasi), yang bisa jadi membuat Anda merasa bisnis sedang sangat menguntungkan. Pemahaman ini penting agar Anda tidak salah langkah dalam mengambil keputusan, misalnya ekspansi yang terlalu agresif berdasarkan laba semu.

Ketiga, di era digital ini, meskipun banyak perangkat lunak akuntansi yang mengotomatisasi perhitungan, pemahaman konseptual Anda tetap tak tergantikan. Software hanya melakukan apa yang Anda perintahkan. Jika Anda tidak memahami logikanya, Anda tidak bisa memverifikasi hasilnya, apalagi memecahkan masalah ketika ada ketidaksesuaian. Kemampuan menganalisis data keuangan, bukan sekadar memasukkan data, adalah skill yang sangat berharga.

Saya percaya, setiap pengusaha, entah kecil atau besar, harus memiliki pemahaman dasar tentang akuntansi persediaan. Ini bukan tugas akuntan semata, melainkan bagian dari literasi finansial yang harus dimiliki setiap pemimpin bisnis.


Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) tentang FIFO:

  • Apa perbedaan utama FIFO perpetual dan FIFO periodik? Meskipun hasil HPP dan persediaan akhir sama, perbedaan utamanya terletak pada kapan perhitungan dilakukan. FIFO perpetual memperbarui catatan persediaan dan HPP setelah setiap transaksi pembelian atau penjualan, memberikan informasi real-time. Sementara itu, FIFO periodik hanya menghitung HPP dan persediaan akhir sekali di akhir periode akuntansi setelah melakukan perhitungan fisik.

  • Mengapa FIFO sering digunakan di industri makanan atau produk dengan masa kadaluarsa? FIFO mencerminkan alur fisik barang yang logis untuk produk-produk tersebut. Barang yang masuk lebih dulu (lebih lama) harus dijual lebih dulu untuk menghindari kerusakan atau kadaluarsa. Ini memastikan kualitas produk tetap terjaga saat sampai ke tangan konsumen.

  • Bagaimana FIFO memengaruhi pajak perusahaan, terutama saat inflasi? Dalam periode inflasi, FIFO cenderung menghasilkan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang lebih rendah karena unit yang dijual dinilai dengan biaya yang lebih lama (dan umumnya lebih rendah). HPP yang lebih rendah akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat berarti pajak penghasilan yang lebih tinggi bagi perusahaan. Ini adalah pertimbangan penting dalam perencanaan pajak.

  • Apakah ada kelemahan dari metode FIFO? Salah satu "kelemahan" FIFO adalah jika diterapkan dalam periode inflasi yang signifikan, ia dapat menghasilkan laba yang terlihat lebih tinggi (karena HPP yang lebih rendah) padahal sebenarnya biaya penggantian persediaan di masa depan sudah meningkat drastis. Ini bisa menyesatkan manajemen jika tidak diinterpretasikan dengan hati-hati. Selain itu, untuk bisnis dengan sangat banyak item persediaan yang bergerak cepat, sistem perpetualnya mungkin membutuhkan investasi teknologi yang lebih besar dibandingkan sistem periodik.

  • Bisakah sebuah perusahaan mengganti metode persediaan dari FIFO ke metode lain atau sebaliknya? Ya, perusahaan dapat mengganti metode persediaan. Namun, perubahan metode akuntansi harus dilakukan secara konsisten dan hanya jika ada alasan yang kuat dan sah (misalnya, untuk mencerminkan kondisi bisnis yang lebih baik atau sesuai standar baru). Perubahan ini memerlukan persetujuan dan pengungkapan dalam laporan keuangan, serta dapat memiliki dampak retrospektif yang perlu disesuaikan pada laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya. Konsistensi adalah prinsip akuntansi yang sangat penting.

Pernyataan Cetak Ulang: Artikel dan hak cipta yang dipublikasikan di situs ini adalah milik penulis aslinya. Harap sebutkan sumber artikel saat mencetak ulang dari situs ini!

Tautan artikel ini:https://cxynani.com/keuangan-pribadi/6607.html

Artikel populer
Artikel acak
Posisi iklan sidebar