Pengertian Investasi Menurut Para Ahli: Panduan Lengkap untuk Pemula Beserta Jenis dan Contohnya

admin2025-08-06 23:42:4861Investasi

Sebagai seorang blogger profesional yang telah lama berkecimpung di dunia keuangan, saya sering berinteraksi dengan banyak orang, mulai dari pemula yang baru mengenal investasi hingga investor kawakan. Salah satu pertanyaan mendasar yang selalu muncul adalah: "Apa sebenarnya investasi itu?"

Bagi sebagian orang, investasi mungkin terdengar rumit, eksklusif, atau bahkan menakutkan. Padahal, inti dari investasi sangatlah sederhana dan relevan bagi setiap individu yang ingin membangun masa depan finansial yang lebih baik. Melalui artikel ini, saya akan membawa Anda menelusuri pengertian investasi dari berbagai sudut pandang ahli, menjelajahi ragam jenisnya, serta memberikan panduan lengkap yang mudah dicerna bagi Anda yang baru memulai perjalanan investasi.


Memahami Esensi Investasi: Bukan Sekadar Menabung Biasa

Mungkin Anda sering mendengar kata 'investasi' di berita, dalam obrolan teman, atau di media sosial. Namun, apakah Anda benar-benar memahami maknanya? Seringkali, investasi disalahartikan sebagai menabung biasa. Padahal, ada perbedaan fundamental yang memisahkan keduanya.

Pengertian Investasi Menurut Para Ahli: Panduan Lengkap untuk Pemula Beserta Jenis dan Contohnya

Menabung adalah kegiatan menyisihkan uang untuk disimpan, biasanya dengan tujuan keamanan dan kemudahan akses. Uang yang ditabung umumnya tidak bertumbuh secara signifikan, bahkan bisa tergerus inflasi seiring waktu.

Investasi, di sisi lain, adalah langkah aktif untuk mengalokasikan sejumlah dana atau sumber daya lain dengan harapan memperoleh keuntungan atau apresiasi nilai di masa depan. Ini melibatkan pengambilan risiko yang terukur demi potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan menabung. Tujuannya bukan sekadar menyimpan, melainkan mengembangkan kekayaan.


Definisi Investasi Menurut Para Ahli: Landasan Teoretis yang Kokoh

Untuk memahami investasi secara lebih mendalam, ada baiknya kita menilik bagaimana para pakar di bidang ekonomi dan keuangan mendefinisikannya. Meskipun memiliki gaya bahasa yang berbeda, inti dari definisi mereka seringkali mengarah pada konsep yang sama:

  • Menurut John Maynard Keynes (Ekonom Terkemuka): Keynes, salah satu pemikir ekonomi paling berpengaruh, mendefinisikan investasi sebagai penambahan barang-barang modal baru pada suatu perekonomian. Ini mencakup pembelian peralatan baru, bangunan, atau persediaan yang digunakan untuk produksi, bukan sekadar pembelian aset yang sudah ada. Pandangan ini lebih menekankan pada investasi riil yang mendorong pertumbuhan ekonomi makro.

  • Menurut Brigham dan Houston (Pakar Keuangan): Dalam konteks keuangan perusahaan, Brigham dan Houston melihat investasi sebagai pengeluaran yang menghasilkan pendapatan atau keuntungan di masa depan. Mereka berfokus pada proyek-proyek yang diharapkan memberikan aliran kas positif dalam jangka panjang. Ini mencakup investasi dalam proyek-proyek ekspansi, riset dan pengembangan, atau akuisisi perusahaan lain.

  • Menurut Halim (Pakar Investasi Indonesia): Muhammad Abdul Halim, seorang akademisi dan praktisi investasi di Indonesia, mendefinisikan investasi sebagai komitmen dana atau sumber daya lain yang dilakukan saat ini, dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa depan. Ia menekankan adanya harapan imbal hasil yang lebih besar daripada nilai investasi awal, serta adanya unsur ketidakpastian (risiko) yang melekat pada keputusan investasi tersebut.

  • Perspektif Umum Para Ekonom dan Ahli Keuangan: Secara umum, banyak ahli ekonomi dan keuangan sepakat bahwa investasi melibatkan pengorbanan konsumsi saat ini demi potensi konsumsi yang lebih besar di masa depan. Ini berarti Anda rela tidak menggunakan uang Anda sekarang untuk membeli barang atau jasa, melainkan menggunakannya untuk hal-hal yang dapat menghasilkan nilai lebih di kemudian hari. Konsep sentralnya adalah menunda kepuasan (deferred gratification) demi pertumbuhan aset.

Dari berbagai definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa investasi adalah: * Alokasi Sumber Daya: Menempatkan uang, waktu, atau tenaga pada suatu aset. * Tujuan Masa Depan: Harapan mendapatkan keuntungan atau nilai tambah. * Unsur Risiko: Selalu ada kemungkinan bahwa hasil tidak sesuai harapan atau bahkan kerugian. * Jangka Waktu: Investasi idealnya melibatkan horizon waktu tertentu, baik pendek, menengah, maupun panjang.


Mengapa Investasi Begitu Penting untuk Masa Depan Anda?

Investasi bukan hanya untuk orang kaya atau para profesional keuangan. Ini adalah alat krusial bagi siapa saja yang ingin mencapai keamanan finansial dan pertumbuhan kekayaan. Berikut beberapa alasan mengapa investasi sangat penting:

  • Melawan Inflasi: Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa dari waktu ke waktu, yang mengurangi daya beli uang Anda. Dengan berinvestasi, Anda berpotensi mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari laju inflasi, sehingga nilai uang Anda tidak tergerus.
  • Mencapai Tujuan Keuangan: Baik itu membeli rumah, membiayai pendidikan anak, pensiun nyaman, atau melakukan perjalanan impian, investasi dapat membantu Anda mencapai tujuan-tujuan besar ini lebih cepat.
  • Membangun Kekayaan (Wealth Accumulation): Investasi memungkinkan uang Anda "bekerja untuk Anda" melalui kekuatan bunga majemuk (compounding interest). Imbal hasil yang Anda dapatkan akan diinvestasikan kembali, menghasilkan imbal hasil tambahan, dan seterusnya, menciptakan efek bola salju.
  • Pendapatan Pasif: Beberapa jenis investasi, seperti dividen saham atau bunga obligasi, dapat memberikan aliran pendapatan pasif secara teratur, mengurangi ketergantungan Anda pada satu sumber penghasilan.
  • Diversifikasi Pendapatan: Dengan memiliki berbagai sumber pendapatan dari investasi, Anda mengurangi risiko ketergantungan pada gaji atau bisnis utama Anda.

Prinsip Dasar Investasi yang Wajib Dipahami Pemula

Sebelum melangkah lebih jauh, ada beberapa prinsip fundamental yang harus Anda pegang teguh:

  • Risiko dan Imbal Hasil (Risk & Return): Hubungan ini bersifat sebanding: semakin tinggi potensi imbal hasil yang ditawarkan suatu investasi, semakin tinggi pula risiko yang menyertainya. Penting untuk memahami toleransi risiko pribadi Anda sebelum memilih instrumen investasi.

  • Diversifikasi (Diversification): "Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang." Ini adalah prinsip emas dalam investasi. Sebarkan investasi Anda ke berbagai jenis aset atau instrumen untuk mengurangi dampak negatif jika salah satu investasi Anda mengalami kerugian.

  • Horizon Waktu (Time Horizon): Tentukan berapa lama Anda berencana untuk berinvestasi. Investasi jangka panjang (lebih dari 5 tahun) cenderung memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi dan dapat menoleransi volatilitas pasar jangka pendek dengan lebih baik.

  • Penelitian dan Edukasi (Research & Education): Jangan berinvestasi pada sesuatu yang tidak Anda pahami. Luangkan waktu untuk mempelajari instrumen yang ingin Anda beli, termasuk potensi keuntungan dan risikonya. Pengetahuan adalah kekuatan terbesar Anda.

  • Disiplin dan Kesabaran: Investasi yang sukses jarang terjadi secara instan. Dibutuhkan disiplin untuk terus berinvestasi secara teratur dan kesabaran untuk melihat hasil yang signifikan dalam jangka panjang. Hindari keputusan emosional berdasarkan fluktuasi pasar jangka pendek.


Beragam Jenis Investasi Populer untuk Pemula dan Contohnya

Dunia investasi menawarkan berbagai pilihan yang dapat disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda. Berikut adalah beberapa jenis investasi yang umum dan cocok untuk pemula:

1. Saham (Stocks) * Apa itu: Kepemilikan sebagian kecil dari suatu perusahaan. Ketika Anda membeli saham, Anda menjadi salah satu pemilik perusahaan tersebut. * Cara Kerja: Investor membeli saham perusahaan melalui bursa efek. Keuntungan bisa didapat dari kenaikan harga saham (capital gain) ketika Anda menjualnya lebih tinggi dari harga beli, atau dari dividen (pembagian keuntungan perusahaan) yang dibayarkan kepada pemegang saham. * Keuntungan: Potensi imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang, likuiditas tinggi (mudah dijual), kepemilikan dalam bisnis yang berkembang. * Risiko: Volatilitas tinggi (harga bisa naik turun drastis), potensi kerugian modal jika perusahaan merugi atau pasar turun, memerlukan analisis yang lebih dalam. * Contoh: Membeli saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).


2. Obligasi (Bonds) * Apa itu: Surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan. Ketika Anda membeli obligasi, Anda sebenarnya meminjamkan uang kepada penerbit obligasi dan akan menerima pembayaran bunga secara berkala (kupon) serta pengembalian pokok pada saat jatuh tempo. * Cara Kerja: Investor membeli obligasi dan menerima pembayaran bunga tetap atau mengambang sesuai jadwal. Pada akhir periode (jatuh tempo), nilai pokok obligasi dikembalikan. * Keuntungan: Lebih stabil dibandingkan saham, pendapatan pasif teratur dari bunga, risiko cenderung lebih rendah (terutama obligasi pemerintah), dapat digunakan sebagai diversifikasi portofolio. * Risiko: Risiko gagal bayar (default risk) dari penerbit (terutama obligasi korporasi), risiko suku bunga (harga obligasi bisa turun jika suku bunga naik), imbal hasil relatif lebih rendah dari saham. * Contoh: Membeli Surat Utang Negara (SUN) seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) atau Savings Bond Ritel (SBR) yang diterbitkan pemerintah.


3. Reksa Dana (Mutual Funds) * Apa itu: Wadah untuk menghimpun dana dari banyak investor untuk kemudian diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI). * Cara Kerja: Investor membeli unit penyertaan reksa dana. Dana tersebut dikelola oleh MI profesional yang akan mengalokasikan dana ke berbagai instrumen investasi (saham, obligasi, pasar uang, dll.) sesuai dengan jenis reksa dana. * Keuntungan: Dikelola oleh profesional, diversifikasi otomatis (dana disebar ke banyak instrumen), modal awal relatif kecil, cocok untuk pemula yang tidak punya banyak waktu/pengetahuan. * Risiko: Kinerja tergantung pada keahlian MI, biaya manajemen, nilai aktiva bersih (NAB) bisa berfluktuasi, tidak ada jaminan keuntungan. * Contoh: Reksa Dana Saham (investasi di saham), Reksa Dana Pendapatan Tetap (investasi di obligasi), Reksa Dana Campuran (kombinasi saham dan obligasi), Reksa Dana Pasar Uang (investasi di instrumen pasar uang jangka pendek).


4. Properti (Real Estate) * Apa itu: Investasi pada aset fisik seperti tanah, rumah, apartemen, atau bangunan komersial. * Cara Kerja: Keuntungan didapat dari kenaikan nilai properti (apresiasi) seiring waktu, atau dari pendapatan sewa jika properti disewakan. * Keuntungan: Potensi apresiasi nilai yang signifikan dalam jangka panjang, pendapatan sewa pasif, aset fisik yang dapat digunakan, lindung nilai terhadap inflasi. * Risiko: Likuiditas rendah (sulit dijual cepat), modal awal besar, biaya perawatan dan pajak, risiko lokasi atau kerusakan. * Contoh: Membeli rumah untuk disewakan, membeli tanah untuk dibangun di masa depan, membeli apartemen sebagai aset investasi.


5. Emas dan Logam Mulia Lainnya (Gold & Precious Metals) * Apa itu: Investasi pada komoditas fisik seperti emas batangan, koin emas, atau perhiasan. * Cara Kerja: Investor membeli emas dan menyimpannya, berharap harganya akan naik di masa depan. Emas sering dianggap sebagai "safe haven" saat ekonomi tidak menentu. * Keuntungan: Lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, aset fisik yang berwujud, likuiditas cukup baik (mudah dijual). * Risiko: Tidak menghasilkan pendapatan pasif (seperti dividen atau bunga), harga bisa berfluktuasi, biaya penyimpanan, risiko kehilangan atau pencurian. * Contoh: Membeli emas batangan dari Antam atau PT Pegadaian, investasi emas digital melalui aplikasi.


6. Peer-to-Peer (P2P) Lending * Apa itu: Platform yang menghubungkan peminjam (individu atau UMKM) dengan pemberi pinjaman (investor) secara langsung, tanpa melalui bank. * Cara Kerja: Investor memberikan pinjaman kepada peminjam melalui platform P2P, dan menerima kembali pokok pinjaman beserta bunga dalam periode tertentu. * Keuntungan: Potensi imbal hasil yang menarik (seringkali lebih tinggi dari deposito), modal awal relatif kecil, turut mendukung UMKM. * Risiko: Risiko gagal bayar peminjam tinggi, likuiditas rendah (dana terikat hingga pinjaman lunas), memerlukan diversifikasi antar peminjam. * Contoh: Berinvestasi melalui platform P2P seperti Investree, Modalku, atau Amartha.


Istilah Penting dalam Dunia Investasi yang Perlu Anda Ketahui

Memasuki dunia investasi berarti Anda akan sering menemui berbagai istilah. Memahami istilah-istilah ini akan sangat membantu Anda dalam membaca berita keuangan, memahami laporan investasi, dan berdiskusi dengan sesama investor:

  • Portofolio Investasi: Keseluruhan kumpulan aset investasi yang Anda miliki, mencakup saham, obligasi, reksa dana, properti, dll.
  • Dividen: Pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham, biasanya dibayarkan secara berkala.
  • Capital Gain: Keuntungan yang diperoleh dari penjualan aset investasi dengan harga lebih tinggi dari harga belinya.
  • Capital Loss: Kerugian yang terjadi ketika aset investasi dijual dengan harga lebih rendah dari harga belinya.
  • Volatilitas: Tingkat perubahan harga aset dalam periode waktu tertentu. Aset dengan volatilitas tinggi berarti harganya cenderung naik turun drastis.
  • Likuiditas: Seberapa mudah suatu aset dapat dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan banyak nilai.
  • Return on Investment (ROI): Pengukuran kinerja investasi, dihitung sebagai persentase keuntungan atau kerugian dari jumlah investasi awal.
  • Bunga Majemuk (Compounding Interest): Bunga yang diperoleh dari pokok investasi awal ditambah bunga yang telah diakumulasi dari periode sebelumnya. Ini adalah kekuatan yang membuat kekayaan bertumbuh eksponensial.
  • Inflasi: Kenaikan tingkat harga umum barang dan jasa, dan secara otomatis menurunkan daya beli mata uang.

Langkah Awal Memulai Investasi bagi Pemula: Dari Nol Hingga Mandiri

Memulai investasi tidak sesulit yang dibayangkan. Ikuti langkah-langkah praktis ini untuk memulai perjalanan Anda:

1. Tetapkan Tujuan Keuangan Anda: Penting untuk memiliki tujuan yang jelas. Apakah untuk dana pensiun, pendidikan anak, atau membeli properti? Tujuan yang spesifik akan membantu Anda menentukan horizon waktu, target dana, dan instrumen investasi yang cocok.

2. Pahami Profil Risiko Anda: Seberapa nyaman Anda dengan fluktuasi pasar? Apakah Anda tipe konservatif (anti risiko), moderat (berani sedikit risiko), atau agresif (berani risiko tinggi demi potensi imbal hasil besar)? Kenali diri Anda agar tidak panik saat pasar bergejolak. Banyak platform investasi menyediakan kuesioner profil risiko.

3. Mulai dengan Modal Kecil dan Konsisten: Tidak perlu menunggu punya banyak uang. Banyak instrumen investasi, seperti reksa dana atau emas digital, bisa dimulai dengan Rp100.000 saja. Yang terpenting adalah konsistensi berinvestasi secara rutin, misalnya setiap bulan.

4. Pilih Instrumen Investasi yang Tepat: Berdasarkan tujuan dan profil risiko Anda, pilih jenis investasi yang paling sesuai. * Jika Anda pemula dan sangat anti-risiko, mulailah dengan reksa dana pasar uang atau obligasi pemerintah. * Jika Anda siap mengambil sedikit risiko untuk tujuan jangka menengah, pertimbangkan reksa dana pendapatan tetap atau campuran. * Jika Anda berani mengambil risiko tinggi untuk tujuan jangka panjang, saham atau reksa dana saham bisa menjadi pilihan.

5. Buka Akun di Platform Investasi Terpercaya: Pilihlah platform yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada banyak pilihan, seperti aplikasi investasi saham (Sekuritas), platform reksa dana online (Agen Penjual Reksa Dana/APERD), atau platform P2P Lending.

6. Diversifikasi Portofolio Anda: Setelah mulai berinvestasi, jangan terpaku pada satu jenis aset. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya modal, coba diversifikasi ke berbagai instrumen. Ini akan membantu mengurangi risiko dan mengoptimalkan potensi keuntungan.

7. Belajar dan Evaluasi Secara Berkala: Dunia investasi terus berkembang. Tetaplah belajar tentang pasar, ekonomi, dan instrumen investasi baru. Tinjau kembali portofolio Anda setidaknya setahun sekali untuk memastikan masih selaras dengan tujuan dan kondisi keuangan Anda.


Pandangan Pribadi Saya: Investasi Bukan Sekadar Angka, Tapi Perjalanan

Sebagai seorang yang telah melalui berbagai pasang surut di dunia investasi, saya ingin menekankan satu hal: investasi adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir yang instan. Banyak pemula yang tergiur dengan janji keuntungan cepat dan besar, lalu kecewa ketika pasar tidak sesuai harapan.

Menurut saya, kunci kesuksesan investasi bukan hanya pada pemilihan instrumen yang tepat atau analisis yang mendalam, tetapi juga pada disiplin emosional dan kesabaran yang tak tergoyahkan. Pasar akan selalu berfluktuasi. Ada saatnya naik, ada saatnya turun. Investor yang bijak adalah mereka yang tidak panik saat pasar bergejolak, melainkan melihatnya sebagai peluang.

Saya selalu menganjurkan untuk berinvestasi pada apa yang Anda pahami. Jika Anda tidak mengerti cara kerja saham suatu perusahaan, jangan langsung membelinya hanya karena direkomendasikan teman. Luangkan waktu untuk riset. Selain itu, jangan pernah berinvestasi dengan uang pinjaman atau uang yang Anda butuhkan dalam waktu dekat. Ini adalah resep menuju bencana finansial.

Ingatlah, investasi adalah tentang membentuk kebiasaan finansial yang sehat. Ini tentang konsisten menyisihkan sebagian penghasilan, terus belajar, dan memiliki visi jangka panjang. Kekayaan sejati tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui serangkaian keputusan cerdas dan kesabaran yang panjang.


Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan Investor Pemula

Mempelajari kesalahan orang lain dapat menghindarkan Anda dari kerugian. Berikut beberapa kekeliruan fatal yang sering dilakukan pemula:

  • Terlalu Emosional: Membeli saat euforia (harga tinggi) dan menjual saat panik (harga rendah). Keputusan investasi harus didasarkan pada data dan analisis, bukan emosi.
  • Tidak Diversifikasi: Menaruh seluruh dana investasi pada satu jenis aset atau bahkan satu saham saja. Ini sangat berisiko.
  • Tidak Memahami Risiko: Berinvestasi pada instrumen berisiko tinggi tanpa memahami potensi kerugiannya, atau tanpa profil risiko yang sesuai.
  • Tergiur Janji Keuntungan Instan: Skema investasi yang menjanjikan keuntungan "pasti dan tinggi" dalam waktu singkat hampir selalu merupakan penipuan.
  • Kurangnya Riset: Berinvestasi berdasarkan "kata orang" atau tren tanpa melakukan analisis mandiri terhadap instrumen yang dipilih.
  • Tidak Konsisten: Berhenti berinvestasi saat pasar lesu atau saat merasa frustrasi. Konsistensi adalah kunci.

Melihat ke Depan: Prospek Investasi di Era Digital dan Dinamika Ekonomi Indonesia

Indonesia, dengan populasi muda yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, menawarkan prospek investasi yang menarik. Era digital telah membuka pintu bagi lebih banyak individu untuk mengakses berbagai instrumen investasi dengan mudah melalui aplikasi mobile. Ini adalah demokratisasi investasi yang luar biasa.

Fenomena ini mendorong inklusi keuangan dan memfasilitasi lebih banyak anak muda untuk mulai membangun kekayaan sejak dini. Data menunjukkan peningkatan signifikan jumlah investor ritel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z. Kecenderungan ini akan terus berlanjut, didukung oleh inovasi teknologi dan kesadaran finansial yang kian meningkat.

Namun, potensi ini juga datang dengan tantangan, terutama terkait dengan literasi keuangan. Meskipun akses mudah, pemahaman mendalam tentang risiko dan strategi investasi masih perlu ditingkatkan. Peran edukasi, baik dari regulator, platform investasi, maupun blogger seperti saya, menjadi sangat vital. Masa depan investasi di Indonesia terlihat cerah, namun hanya bagi mereka yang mau belajar, bersabar, dan berinvestasi secara bertanggung jawab. Kekuatan ekonomi Indonesia yang solid dan dukungan regulasi yang adaptif akan menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan pasar modal domestik di tahun-tahun mendatang.


Tanya Jawab Cepat untuk Memperjelas Pemahaman Anda

  • Q: Apakah investasi itu sama dengan spekulasi? A: Tidak. Investasi melibatkan analisis, tujuan jangka panjang, dan risiko terukur dengan harapan keuntungan yang wajar. Spekulasi cenderung berfokus pada pergerakan harga jangka pendek, tanpa analisis fundamental yang mendalam, dan mengambil risiko sangat tinggi demi keuntungan yang sangat besar dan cepat.

  • Q: Berapa modal minimal untuk memulai investasi? A: Tergantung jenis instrumennya. Anda bisa memulai investasi reksa dana atau emas digital mulai dari Rp10.000 atau Rp100.000. Untuk saham, biasanya perlu sekitar Rp100.000 hingga Rp500.000 tergantung broker.

  • Q: Apakah investasi selalu menguntungkan? A: Tidak ada jaminan investasi selalu menguntungkan. Semua investasi memiliki risiko kerugian. Namun, dengan strategi yang tepat, diversifikasi, dan horizon waktu yang panjang, peluang untuk mendapatkan keuntungan jauh lebih besar dibandingkan jika tidak berinvestasi sama sekali.

  • Q: Kapan waktu terbaik untuk memulai investasi? A: "Waktu terbaik adalah kemarin, waktu terbaik kedua adalah sekarang." Semakin cepat Anda memulai, semakin banyak waktu bagi uang Anda untuk bertumbuh melalui bunga majemuk. Jangan menunda-nunda!

Pernyataan Cetak Ulang: Artikel dan hak cipta yang dipublikasikan di situs ini adalah milik penulis aslinya. Harap sebutkan sumber artikel saat mencetak ulang dari situs ini!

Tautan artikel ini:https://cxynani.com/Investasi/6490.html

Artikel populer
Artikel acak
Posisi iklan sidebar